Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter (Pendikar)

Melihat perkembangan berita terbaru tentang perilaku generasi muda Indonesia tampaknya makin membuat kita mengelus dada ya Sad. Bagaimana tidak, berita saat ini mayoritas menceritakan hal-hal negatif tentang perilaku generasi muda. Dari mulai tawuran dijalan-jalan umum, free sex yang merambah kota hingga pelosok, sampai fenomena narkoba dan bunuh diri.



Tentu hal di atas menjadi keprihatinan kita bersama, terutama yang berprofesi sebagai pendidik. Harus ada upaya serius dan sungguh-sungguh untuk mengatasinya. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah dengan merancang program Pendidikan karakter yang disingkat Pendikar, karena menurut pemerintah pangkal persoalan-persoalan yang menjangkiti generasi muda saat ini adalah miskinnya karakter. Memang banyak pengamat yang meragukan efektifitas dari pendikar ini dikarenakan mindset yang digunakan masih cara lama.

Di tempat saya berugas, pendikar ini sudah mulai dilaksanakan awal tahun ajaran kemarin. Saya pribadi selaku pendidik berharap dengan adanya pendikar ini dapat memperbaiki karakter generasi bangsa,walupun mungkin belum optimal.

Menurut Balitbang Pusbuk Kemdiknas (2011) Pendidikan karakter ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila. Hal  ini sekaligus menjadi upaya untuk mendukung perwujudan cita-cita sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. Di samping itu,  berbagai persoalan yang dihadapi oleh bangsa kita dewasa ini makin mendorong semangat dan upaya pemerintah untuk memprioritaskan pendidikan karakter sebagai dasar pembangunan pendidikan.  Semangat itu secara implisit ditegaskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2015, di mana Pemerintah menjadikan pembangunan karakter sebagai salah satu program prioritas pembangunan nasional. Upaya pembentukan karakter sesuai dengan budaya bangsa ini tentu tidak semata-mata hanya dilakukan di sekolah melalui serangkaian kegiatan belajar mengajar dan luar sekolah, akan tetapi juga melalui pembiasaan (habituasi) dalam kehidupan, seperti: religius, jujur, disiplin, toleran, kerja keras, cinta damai, tanggung-jawab, dan sebagainya. Pembisaan itu bukan hanya mengajarkan (aspek kognitif) mana yang benar dan salah, akan tetapi juga mampu merasakan (aspek afektif) nilai yang baik dan tidak baik serta bersedia melakukannya (aspek psikomotorik) dari lingkup terkecil seperti keluarga sampai dengan cakupan yang lebih luas di
masyarakat. Nilai-nilai tersebut perlu ditumbuhkembangkan peserta didik yang pada akhirnya akan menjadi pencerminan hidup bangsa Indonesia. oleh karena itu, sekolah memiliki peranan yang besar sebagai pusat pembudayaan melalui pengembangan budaya sekolah (school culture).

Bagi anda yang membutuhkan pedoman pelaksanaan pendikar silakan DOWNLOAD DISINI



Popular posts from this blog

PENERAPAN METODE MENGAJAR INQUIRY DALAM PEMBELAJARAN SAINS DI SEKOLAH DASAR (Bagian 2)

Tanya Jawab seputar SOSIOLINGUISTIK

PSYCHOLINGUISTICS: LANGUAGE AND THE BRAIN