APA YANG HENDAKNYA DILAKUKAN GURU SELAMA MASA LIBUR ?

clip_image002

Oleh : Sesep Ferdiansyah Syaiful Hijrah, S.Pd.

Masa libur sekolah telah tiba. Libur yang cukup panjang ini (selama 2 minggu) tentu disambut gembira oleh banyak kalangan, termasuk para guru. Adalah lumrah jika para guru--yang telah mencurahkan tenaga, waktu dan pikirannya selama satu semester untuk memberikan layanan pendidikan—mempunyai rencana untuk refreshing dengan mengunjungi tempat-tempat wisata. Yang tidak lumrah adalah seluruh waktu libur yang selama 2 minggu ini dihabiskan oleh guru hanya untuk berwisata dan beristirahat di rumah, tanpa melakukan sedikitpun hal-hal yang berkaitan dengan profesinya selaku pencetak calon-calon penerus estafet pembangunan bangsa.

Cukuplah 3-4 hari dihabiskan untuk berwisata dan beristirahat, selebihnya justru masa libur ini adalah momentum yang sangat tepat bagi para guru—termasuk saya—untuk “menata diri” kembali menghadapi semester 2 nanti. Jika selama 6 bulan ke belakang kita seolah dikejar oleh kewajiban mengajar, maka saat libur ini bisa kita manfaatkan untuk melakukan berbagai hal yang akan membuat kita “terlahir kembali” dan siap untuk menjadi guru yang lebih baik menghadapi semester 2 nanti.

1. Refleksi

Kita selaku guru tentu bukanlah makhluk sempurna seperti halnya malaikat. Banyak kekliruan yang kita perbuat selama rentang waktu satu semester kemarin. Cobalah untuk melakukan refleksi selama masa libur ini, dan jika perlu catatlah kekurangan-kekurangan kita dalam mendidik, kemudian catat pula cara-cara untuk memperbaikinya. Tekadkan dalam diri bahwa cara-cara tersebut akan dilaksanakan secara konsisten di semester 2 nanti.

Refleksi yang kita lakukan hendaknya bersifat holistik, dari mulai metode pembelajaran yang selama ini digunakan, sikap dan tingkah laku kita selama di sekolah, cara kita melakukan evaluasi, hingga hubungan interpersonal antara kita dengan guru lain dan kepala sekolah. Refleksi yang holistik akan membuahkan “peta diri” yang utuh.



2. Memperbaiki dan Melengkapi Administrasi Pembelajaran

Membuat administrasi pembelajaran memang dilakukan oleh para guru pada awal tahun pelajaran (sekitar bulan Juni), akan tetapi tidak ada salahnya pada libur semester 1 ini seluruh administrasi tersebut kita periksa kembali. Boleh jadi ternyata ada yang perlu diperbaiki atau bahkan ada yang belum lengkap sehingga harus dilengkapi. Misalnya Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang kita buat di awal tahun pelajaran lalu ternyata banyak kekurangan, maka masa libur ini adalah waktu yang tepat untuk memperbaikinya.

3. “Belajar” lagi

Banyak guru yang merasa bahwa “masa belajar” mereka telah usai seiring dengan lulusnya mereka dari bangku kuliah. Padahal ilmu pengetahuan itu terus berkembang secara eksponensial. Maka tidak heran, banyak guru yang “jadul” dalam banyak hal, baik dalam menyajikan bahan ajar, dalam menyikapi perubahan, dalam “menangani”anak didik, maupun dalam pemilihan metode pembelajaran yang itu-itu saja.

Guru yang gemar membaca akan selalu up to date. Imbasnya ia punya 1001 cara untuk menyampaikan bahan ajar secara menarik dan inovatif. Masa libur adalah waktu yang tepat untuk banyak membaca buku-buku yang berkaitan dengan profesi kita selaku guru.

4. Berbagi Pengalaman

Masa libur ini membuat kita punya banyak waktu untuk saling mengunjungi dengan rekan sesama guru, baik yang satu sekolah maupun tidak. Selain untuk mempererat tali silaturahmi, mengunjungi rumah rekan guru dapat menambah wawasan kita tentang dunia pendidikan.

Obrolan yang tercipta di rumah rekan guru yang kita kunjungi tentu akan lebih hangat ketimbang di sekolah, karena suasananya tidak terlalu resmi. Selain membicarakan hal-hal ringan, tak pelak obrolan tersebut dapat menjadi ajang berbagi pengalaman sesama guru dalam menjalankan profesinya, sehingga kedua belah pihak dapat saling menimba pengalaman yang sangat berguna.

Penutup

Waktu libur, khususnya bagi guru, hendaknya tidak semata digunakan untuk “bersenang-senang”, tetapi dapat digunakan untuk hal-hal yang sangat menunjang profesi kita. Sebagai pekerjaan yang termasuk dalam ranah profesional, guru adalah profesi yang menuntut perlakuan yang “serius” bagi orang-orang yang menggelutinya.

Wallahu a’lam bisshowaab. (*)

*) Penulis: Guru SDN Sukaslamet III Kec. Kroya Kab. Indramayu.



Popular posts from this blog

PENERAPAN METODE MENGAJAR INQUIRY DALAM PEMBELAJARAN SAINS DI SEKOLAH DASAR (Bagian 2)

Tanya Jawab seputar SOSIOLINGUISTIK

PSYCHOLINGUISTICS: LANGUAGE AND THE BRAIN